Rabu, 06 Maret 2013

North Celebes


Bismillah.........
Hai....hai ketemu lagi dengan saya.... sekarang saya akan berbagi pengalaman selama saya tinggal di Gorontalo tepatnya di Kabupaten POHUWATO.

Pagi itu ketika pulang dari RS AMELIA Pare-Kediri Jawa Timur, suami tercinta menelfon untuk bersiap karena tiket pesawat utuk ke Gorontalo udah dipesan olehnya melalui teman baik ku Husin Handoko, what???? Kaget (gimana ngga kaget katanya bulan depan aja aku kesana eh malah besok pagi jadinya), Sebel (aku kan harus berkemas sendiri mana pakaian kotor banyak lagi huuuuuuuuuh :( ) bahagia (ya iya laah udah 3 bulan g ketemu hihihhhih) mana badan ku capek baget soalnya tadi malam ngga bisa tidur (secara nunggin teman yang harus dirawat di rumah sakit, kalo anak kosan gini kan harus saling menjaga kalo sakit  ) well di bantu si cantik elin constantianopel kami segera paking semua barang, buku-buku,pakaian dan lain-2, dan ya tuhan kok tasnya jadi beranak pinak ya.... kemarin Cuma 2 tas sekarang jadi 4 tas wkwkkkwkwk. Selesai Packing aku mengajak elin ke Kediri Mall untuk membeli oleh-oleh dan beberapa pesanan suami. Peswat yang akan membawa ku menuju Gorontalo akan berangkat pada pukul 12.45 WIB jadi aku pilih travel yang membawaku pada pukul 8 pagi dari Pare menuju Juanda di Siduarjo, tetapiiiiiii sopir travelnya menelfon pada pukul 5 subuh kalo aku akan di jemput pada pukul 6... haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa????? Aku kan belum selesai Packingnya, dan semua anak kos dibangunin bantuin aku angkat barang-2 dan paking (maksih ya heheheh)
Kejadian mengharukan di mulai,, meluk elin (elin adalah adik sahabat ku di RIAU dan aku juga sudah sangat akrab dengan keluarga elin, jadi dia udah seperti adik sendiri ) lalu Vera, Pinas, Rika, Rina , Ani, Deta dan anak baru yang belum sempat aku tahu namanya.
Pukul 09.00 WIB aku tiba di Juanda, well ini perjalanan kedua ku berangkat mengunakan pesawat seorang diri jadi udah nggak kaku lagi hee... aku harus menunggu 4 jam lebih sebelum keberangkatan. Oooooh lamanya,well beebrapa saat duduk diruang tunggu aku pun mulai ngantri lalu menuju lantai atas dan menikmati Rawon nikmat sebelum terbang (soalnya ngag sempat sarapan pagi tadi) satu mangkok rawon di bandara bisa buat 6 mangkot di Pare mahal amat ya, untung masih ada sisa uang setelah membayar kelebihan bagasi sebanyak 12 kg hiiiii....  terbang-terbang, well transit dulu di Hasanudin Makassar yang luaaaaaaas bgt,, lebih luas dari Hang Nadim, Juanda dan Sepinggan. Akhirnya pukul 20.00 WITA aku sampai di bandara Jalaludin Gorontalo, ketemu my luphy luphy berpelukaaan....... ( ahihihiihih ^_^) tapi ada kejadian yang menjengkelkan, Koperku Hilang..... :( aku segera lapor ke kantor sri wijaya air dan diberi surat kehilangan koper dan di janjikan 24 jam akan kembali, lalu kami memutuskan ke Hotel untuk istirahat dulu, wuuz wuzz mobilnya ngebut soalnya yang bawa bosnya suami ku, huuu kehilangan koper padahal baju cuma yang dibadan, akhirnya suami mengajak ku ke Gorontalo Mall untuk nayari baju, dalam kondisi lelah akhirnya aku ikut juga kebetulan Hotel tempat kami menginap hanya beberapa meter dari GM, pilih-2 hmmmmm ngga ada yang sesuai tapi ya terpaksa beli dari pada ngga ganti ^_* . Kesan pertama melihat kota ini yah sedikit kecewa karena ibu kota Provinsi yang tidak semegah Balikpapan, Samarinda, Batam dan Kediri, tapi ini bisa dibilang cukup cepat perkembangannya dikarenakan Gorontalo merupakan Provinsi baru. Sore hari selepas chek out kami dijemput oleh meneger suamiku (bapak ini orang minang looh sama dengan aku hehehhe ) lalu kami diajak berkeliling melihat kota Gorontalo, waaaw ternyata indah banget,, perkampungan disepanjang teluk tomini.
Well sesuai dengan janji yang dikatakan oleh pihak sriwijaya air akhirnya koperku kembali, alhamdulillah...... perjalanan dilanjutkan menuju Taluditi, dikarenakan perjalanan malam maka aku memilih untuk tidur, lagi pula aku merasa sangat lelah, pukul 01.30 WITA kami tiba dirumah yang disediakan perusahaan. Hmmm rasa lelah yag teramat sangat membuat ku memutuskan kembali menghempaskan tubuh ini ke kasur dan terlelaplah hingga fajar menjemput.
Taluditi adalah kecamatan yang cukup maju, jika aku bandingkan dengan kecamatan Rantau Pulung tempat aku tinggal dahulu di Kalimantan Timur, disini jalanan sudah Aspal semua hingga kepelosok desa, PLN dan PDAM sudah 24 jam, setiap PK atau Panca Karsa (biasanya di daerah Trans yang lain di sebut SP atau Satuan Pemukiman tapi disini disebut PK) tersedia PUSKESMAS dan terdapat dokter, bidan dan beberapa perawat, alhamdulillah dokter disini akhwat.
Alam disini sungguh sangat indah......lembah yang terbentang luas menghijau ditumbuhi padi, perbukitan yang masih banyak tanaman asli, perkebunan jagung yang luas, kelapa, kakao dan buah-2an lainnya, air sungai yang putih jernih.... (pas lihat ini aku langsung ajak suami berenang di sungai setiap minggu pagi hihihihi maklum di Guntung ngga ada sungai ginian) sayur mayur yang cukup murah (kacang panjang,terong,buncis,kecambah harganya Cuma seribu rupiah dan dapat banyak) dan kita akan menemukan pohon Jeruk Nipis, Rambutan dan Duku dimana-mana. Untuk pasar mingguan diadakan pada pagi hari setiap Rabu dan Sabtu (kalo di Ranpul dulu Pasar malamnya setiap Selasa Malam) ketika berbelanja dipasar, banyak sekali rempah-2 yang tidak ada di jual, seperti laos, daun salam, daun jeruk dan daun kunyit (maklum orang sumatra kalo masak rempahnya banyak bangeeeeeeet spesialy aku hihihihihi) penjualnya cukup kaget ketika aku tanya rempah-2 tersebut dan mereka bilang kalo rempah-2 tersebut ngga di jual, karena bisa dijumpai di rumah-2 penduduk. Alhasil kalo mau rempah itu ya dibeli kerumah-2 yang punya tanaman tersebut, dan disni juga ngga ada cabe keriting uuuuuuh yang jual Cuma satu orang dan itu juga ngga selalu ada, penduduk disini lebih menggunakan cabe rawit, karena tanaman caberawit banyak banget disini bahkan dijadikan pagar tanaman, Penduduk disini banyak orang dari Pulau Jawa,mereka adalah transmiggran ada juga penduduk asli gorontalo, kalo yang dari sumatra bisa dihitung dengan jari hiiiiii  .

Rabu, 16 Januari 2013

Jejak kaki ditanah jawa

PARE OH PARE



Pertama kali mendengar nama tempat ini, fikiran ku menerawang kesebuah kota di Sulawesi selatan namun penafsiran ku salah. Pare adalah salah satu kecamatan di kota Kediri Jawa Timur. Aku mengetahui tempat ini dari salah seorang teman ku, setelah itu aku mainkan jemari di tablet pc yang di belikan suami ketika bulan madu di batam beberapa waktu lalu, dengan bermodalkan nekat dan uang saku dari suami tercinta aku memberanikan diri menginjakkan kaki ke Pulau jawa seorang diri, kala itu suami ku sempat ragu karena dia takut aku kenapa-kenapa di perjalanan sementara dia tidak dapat mengantar ku karena ada pertemuan penting di esok harinya. Demi menuntut ilmu akhirnya ia melapaskan ku dengan berat hati, aku menguatkannya dengan kata-kata pamungkas yang biasanya saling kami gunakan “kita kan calon orang tua mujahid jadi tidak perlu takut Allah akan melindungi kita” dia hanya tersenyum sambil memeluk erat diriku sebelum berangkat mengunakan travel menuju Balikpapan, perjalanan yang aku tempuh cukup jauh dari Sangatta ke balikpapan 9 jam lalu terbang selama 1 jam 45 menit. Ini perjalanan pertamaku seorang diri biasanya aku hanya mengerungi laut cina selatan untuk berlibur, tapi kini aku membelah langit indonesia dengan burung besi, akhirnya aku menginjakan kaki di bumi wali songo, travel yang menjemputku telah menunggu di luar bandara, aku sempat gugub, ketika mengingat beberapa kejadian yang biasa aku lihat di televisi. Panglima perang ku di Kaltim terus menelfon katanya takut permaisurinya kenapa-kenapa hehehhehe (lebay... :P). Perjalanan dari juanda menuju pare cukup jauh, 3 jam lamanya hmm aku benar-benar lelah. Sepanjang perjalanan aku terus bersyukur atas keadaan ku saat ini, tahukah teman apa yang aku lihat?. Aku meihat hal yang belum pernaha sebelumnya aku lihat baik di kampung halaman ku di Riau dan ketika aku mengikuti suami ke Kaltim. Aku melihat pengemis, aku melihat pengamen, pembersih kaca mobil dilampu merah, dan tahukah dirimu teman betapa berbinarnya wajah mereka ketika driver memberikan koin 100 rupiah... what? Aku sampai tertegun, koin itu sungguh sangat berharga baginya. Sepanjang jalan aku terus menangis betapa selama ini aku lupa akan bersyukur, aku sedikit boros dan terkadang aku selalu ingin menikmati yang enak-enak saja, sedikit sombong. Tapi kini, inilah pelajaran yang aku ambil dari keberadaan ku di pulau jawa, sungguh aku sangat berterimakasih pada suamiku yang mengizinkanku untuk kursus bahasa asing di jawa, tidak hanya pelajaran bahasa asing yang aku dapatkan tapi juga pelajaran kehidupan, semakin rindu aku pada pujaan hati ku, pada imam ku yang tengah berda di borneo. Sebenarnya aku tak ingin pergi jauh darinya tapi berhubung ini demi masa depan kami dan hanya beberapa bulan, maka aku terus melangkah untuk maju.
Tibalah aku di sebuah camp, yang letaknya di jalan glagah pertama kali tiba disana aku langsung disambut oleh saudari ku yang juga seorang akhwat, senyum ramahnya sembari memeluk ku. Sementara beberapa perempuan disana tamapak cuek dan enggan menyapa, inilah yang aku rasakan perbedaan antara akhwat dan yang lain, ketika kita bersua meski tak saling kenal kita tetap mengucapkan salam dan tersenyum ramah bahkan memeluk dengan hangatnya, hal ini juga aku rasakan ketika pertama kali berada di Rantau Pulung Kaltim, dan ketika aku jalan-jalan di Samarinda. Singkat cerita ukti fitri lah yang menemani ku untuk mencari tempat penyewaan sepeda (disini para siswa menggunakan sepeda untuk kegiatan kursusan) kami sering pergi bersama karena dia juga merupakan teman sekamar ku. Banyak hal yang kami lewati bersama kami bertiga, aku, fitri dan fira kami sering malakukan kegiatan bersama kebetulan kami satu kamar, mereka inilah yang menghibur ku ketika air mata rindu ini menetes setiap kali suamiku menelfon, apa lagi ketika dia mengatakan rindu pada ku dan suaranya terdengar parau karena menahan rasa rindu, mungkin dia menangis (huhuhuhuhuhu  ) kami juga sering sholat berjamaah, mengaji bersama saling mengingatkan, dan kami seperti bersaudara, fitri selalu menjadi imam karena dia telah mendapatkan rezeki lebih untuk menunaikan rukun iman yang ke lima di usia 23 tahun (insyaallah 3 tahun lagi aku dan suami akan mengunjungi rumah Allah aamiin... ^_^ ). Fitri dan fira berasal dari makasar sementara aku berasal dari Riau, kami memiliki selera yang berbeda dalam makanan, mereka fine-fine saja dengan masakan daerah ini tapi tidak dengan lidah ku, karena perbedaan rasa masakan dan tekstur nasi maka aku sempat tidak bisa makan selama empat hari, untungnya ketika jalan-jalan dengan fira aku menemukan warung sumatra, pertma kali makan disana kau benar-benar merasa senang sekali karena berasa dirumah. Mulai hari itu sampai selama aku di pare aku selalu makan di warung sumatra, bahkan ada teman yang berujar apakah aku tidak bosan? Aku fikir tidak karena sesuai dengan lidaah ku. Satu bulan di Alfalfa kami bertiga pindah ke bording house yang terletak di jalan Brawijaya dikarenakan jadwal kursusan kami yang sangat padat dan letak kursusan kami yang cukup jauh dari alfalfa maka dari itu kami memutuskan untuk pindah dari Camp Alfalfa, kami kembali bersam di bording house yang baru mungkin inilah maksud dari perkataan “jiwa itu seperti sekumpulan prajurit jika saling mengenal maka ia tak aakn merasa asing” kami bertiga tidak pernah marah-marahan saling mengerti satu sama lain, selalu tidur siang bertiga jika salah satu membeli makanan maka itu akan kami nikmati bertiga. Subhanallah aku sangat bersyukur karena Allah mempertemukan aku dengan mereka, mereka ramah, tidak mudah tersinggung, dan tidak pelit, masih jelas dalam ingatan ku ketika aku sakit merekalah yang merawat ku, mereka yang menemaniku ketika terjaga di tengah malam. Fira membawa sekotak obat yang isinya bermacam-macam dan dialah yang selalu memberi kami obat jika kami sakit (maminya fira bekerja di dinas kesehatan), fira itu anaknya lucu banget kita selalu punya cerita yang dibagi bersama, dia juga sering membuat kekonyolan hihihihihihi dan kawat giginya itu iiiiiiiii gede bangeet heehehhehe (pisss ya fira *_*V ) sekarang fira udah bekerja disalah satu perusahaan tambang di Sorako SULSEL. Fitri......fitri itu sedikit bicara dia adalah yang paling rajin belajar, kalo jam 9 aku dan fira sudah tidur maka fitri akan tidur pada pukul 12. Semangatnya yang membara untuk melanjutkan master di jepang mengalahkan rasa kantuknya, dia adalah tempat kami bertanya dalam segala hal terutama tentang agama, perawakannya yang kecil membuat dia terlihat sangat imut, dan ternyata banyak yang naksir dia loohh hehheheh (tapi dia belum berfikir untuk menikah) fitri itu juga lucu terkadang dia kami jadikan bahan untuk lucu-lucuan hehehhe.
Di Bording house aku menemukan teman-teamn yang luar biasa sama seperti ketika di Alfalfa, di bording house ku terdapat 13 orang, lebih dari separuh mereka datang ke Pare untuk mengasah kemampuan TOEFL dan ILST karena mereka akan melanjutkan Master ke luar negri, seperti vera dari lombok, dia kana melanjutkan S2 Kimia di new zeland, Pinas yang akan melanjutkan Master sikologinya di Belanda juga ada Tisa, Dita dan beberapa teman lain yang juga akan meninggalkan tanaha air untuk melanjutkan pendidikannya. Di tempat kos ternyata aku tidak sendiri, ada juga beberapa teman ku yang telah menikah dan mereka seusia denganku, kita menuntut ilmu di pare dan jauh dari suami tercinta.
Oh ya... bordinghouse ku letaknya sangat strategis dan mudah untuk akses berbelanja, di sekitar AA bording house ada warung makan bu sakinah, mini market Al Amin, toko alat tulis AA, Warnet dan masih banyak lagi, disini pemilik kos menerapkan peraturan yang tidak memperbolehkan laki-laki masuk ke Kost apa lagi ke kamar Kost, jika ada tamu laki-laki maka hanya boleh duduk diteras luar, dan jam berkunjung atau keluar malam hanya sampai jam 21.00 WIB jika lewat dari jam tersebut maka pintu gerbang tidak akan dibukakan, jadi kalo tidak mau tidur di pinggir jalan maka pulanglah sebelum jam tersebut, satu hal sangat saya suka dari Pare adalah nuansa keagamaan yang sangat kental, disetiap Gang ada musolah atau masjid azan akan silih berganti berkumandang, kita akan mudah menemukan akhwat-akhwat berjilbab lebar, suatu pemandangan yang indah 

alun-alun pare, biasanya setiap Ahad pagi alun-alun akan rame banget dipenuhi anak-anak yang belajar di kampung inggris

masjid Raya An Nur Pare...


masuk desa tulungrejo


(liburan di jogja 26 oktober 2012)

pantai selatan jogja with rhieny ^_^






















tulungrejo 01 january 2013

upload Taluditi 17 january 2013

Fajar ke 6 di Ternate part 2

Kami kembali  ke Ternate menggunakan kapal cepat, dan tahu kah kawan-kawan ada hal yang sangat mengganggu saya dalam kapal cepat ini, ...