sebelumnya baca dulu ya "tamasya ditengah samudra"
 |
| Gunung Gamalama dari buritan kapal |
 |
| kantor luran Salero, berdampingan dengan Masjid Imam Bonjol dan terletak di jantung Kota |
Jam menunjukan pukul 16.30 WIT
kapten kapal mengumumkan 30 menit lagi kapal akan bersandar di pelabuhan
Ternate, kami menikmati pemandangan yang sangat luar biasa dari buritan kapal,
di sisi kanan pulau Tidore dan pulau Maitara terlihat berdampingan seperti pada
uang Seribu rupiah terbitan tahun 2012,
disisi kiri Gunung Gamalama beridiri
kokoh, dan di badan gunung ini lah kota Ternate berkembang, sebelumnya
Ternate merupakan ibu kota Provinsi Maluku Utara, dan kini ibu kota
Maluku utara telah berpindah ke Sofifi
di kepulauan Halmahera, yaaa pulau yang berbentuk huruf K yang terlihat jelas dari dataran
ternate. Ketika kapal bersandar Pak
Riswan yang merupakan pemilik home stay tempat kami akan menginap selama 6 hari
telah menunggu kami di pelabuhan, Riswan Home stay merupakan tempat menginap
dengan Rating tertinggi di Traveloka, harga permalammnya juga cukup bersahabat
(silahkan cek di traveloka atau booking.com). Riswan homestay sangat nyaman, bersih, tempatnya strategis, pemiliknya
ramah dan feel like home, pak riswan dan ibu sangat ramah, pak riswan membuatkan
kami peta sederhana untuk tempat2 wisata di Ternate, dan juga menyediakan
penyewaan sepeda motor dan juga mobil, berhubung Ternate hanya 42KM kelilingnya
jadi kami hanya perlu sepeda motor saja.
Istri pak Riswan ternyata suku Minang yang bermukim di Pekanbaru dan
dari merekalah kami mengetahui jika di Ternate ini banyaaaaaaak suku minang,
bahkan ada pedagang sate padang looh disini, berhubung pedagangnya masih libur
maka saya tidak bisa menikmati sate padang. Disini juga ada kelurahan bernama Salero ada masjid Imam Bonjol, dan banyak pedangang disini yang asli Minang.
 |
| Gunung Gamalama dari teras Home stay |
Dari mereka (ibu dan bapak Riswan)juga kami mengetahui
tentang larangan-2 untuk mendaki, bu riswan bercerita, pernah suatu hari ada
pendaki dari Kalimantan adik dan kakak (wanita) yang tinggal di homestay ini,
mereka ini sudah terbisa mendaki tapi
berhubung mereka sedang “halangan” maka bu risawan memberitahukan agar mereka
tidak mendaki karena itu memang larangan yang harus di patuhi oleh setiap
pendaki, mereka tidak mengindahhakan perkataan bu riswan, alhasil mereka
mendaki jam 11 siang, ketika turun pada jam 11 malam mereka tersesat, untung
saja wilayah mereka tersesat ini masih masuk dalam jangkauan sinyal telekomunikasi
(fyi : Gunung Gamalama ketinggiannya tidak sampai 2000 MDPL , dan jarak tempuh
dari desa terakhir ke puncak gunung hanya 6jam perjalanan, cukup dekat, menara
telekomsel terdapat di salah satu sisi ketinggian). Alhasil jam 11 malam pak riswan menghubungi
juru kunci gunung dan membantu menemukan mereka alahmdulillah mereka selamat,
dan ketika turun mereka menceritakan pengalaman
“mistis”. Dan pada tgl 21 juni 2018 (pada saat kami masih di Ternate)
ada mahasiswa yang hilang di gunung Gamalama, Alhamdulillah di temukan meski
dalam keadaan hypothermia, jadi dimanapun kita berada kita harus menuruti larangan yang dipercaya
warga setempat.
 |
| pemandangan di pelabuhan dufa-dufa |
Setelah beristirahat semalaman,
keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Jailalo, Halamhera Barat (Pulau
berbentuk huruf K) . Untuk mengunjungi teman seperjuangan
abi Ghazia ketika kuliah di INSTIPER Yogyakarta, perjalanan dari Ternate ke Jailalo
bisa menggunakan kapal cepat dan kapal kayu di pelabuhan Dufa-dufa, untuk kapal cepat tarifnya Rp60.000 lama perjalanan 1jam membelah laut Halmahera
yang terkenal cuaca bisa berubah-2 untuk itu setiap penumpang yang akan menaiki
speed boat diberikan jaket pelampung berwarna jingga, untuk menggunakan kapal
kayu harga tiket Rp 40.000 lama perjalanan 1,5jam. Untuk spead akan berangkat
jika penumpang sudah mencukupi 40 orang jadi kita harus menunggu, meski
menunggu pemandangan disekitar pelabuhan tak akan membuat kita jemu. Kami disambut
gerimis ketika memasuki peraian teluk Jailalo
dari pelabuhan kami menggunakan bentor kerumah temannya abi Ghazia (kita bisa menemukan
bentor di Tidore dan Halmahera, tapi khusus di Ternate tidak ada bentor).
 |
| Jalanan di salah satu kecamatan di Jailalo |
 |
| Pantai jailalo denga pasir hitamnya (nangis pengen renang) |
Kami meginap
1 malam dirumah temannya abi ghazia, ghazia sangat senang Karena ghazia bertemu dengan teman seumurannya
bernama arkan, ghazia cepat akrab dia tidak segan untuk memperkenalkan diri dan
si Arkannya yang malu-malu xixiixixix, di Jailalo kami mengunjungi pantai (syaa
lupa namanya) pantai di Jailalo ini pasirnya Hitam cukup berbeda dengan
pantai-pantai yang ada di Grontalo yang hampir keseluruhan berpasir Putih,
karena Maluku merupakan penghasil rempah-rempah, sepanjang perjalanan pohon
Pala, cengkeh dan rambutan sangat banyak ditemui......
(bersambung Fajar ke 6 diTernate
Part 2)
 |
| bagian dalam speadboat |
Indahnyaaaaa... syukron sudah berbagi. Walaupun entah kapan ke sana, setidaknya udah ikut menikmati keindahan alam ternate😍😍. Jalan2 terus ya... dan teruslah berbagi cerita..😊
BalasHapusiya kakak... terimkasih suah berkunjung xixiixixi
Hapus