Kamis, 28 Juni 2018

Fajar ke 6 di Ternate


sebelumnya baca dulu ya "tamasya ditengah samudra"

Gunung Gamalama dari buritan kapal
kantor luran Salero, berdampingan dengan Masjid Imam Bonjol dan terletak di jantung Kota
Jam menunjukan pukul 16.30 WIT kapten kapal mengumumkan 30 menit lagi kapal akan bersandar di pelabuhan Ternate, kami menikmati pemandangan yang sangat luar biasa dari buritan kapal, di sisi kanan pulau Tidore dan pulau Maitara terlihat berdampingan seperti pada uang Seribu rupiah  terbitan tahun 2012, disisi kiri Gunung Gamalama beridiri  kokoh, dan di badan gunung ini lah kota Ternate berkembang,  sebelumnya  Ternate merupakan ibu kota Provinsi Maluku Utara, dan kini ibu kota Maluku utara telah berpindah ke Sofifi  di kepulauan Halmahera, yaaa pulau yang berbentuk huruf K yang terlihat jelas dari dataran ternate.  Ketika kapal bersandar Pak Riswan yang merupakan pemilik home stay tempat kami akan menginap selama 6 hari telah menunggu kami di pelabuhan, Riswan Home stay merupakan tempat menginap dengan Rating tertinggi di Traveloka, harga permalammnya juga cukup bersahabat (silahkan cek di traveloka atau booking.com).  Riswan homestay sangat nyaman, bersih, tempatnya strategis, pemiliknya ramah dan feel like home, pak riswan dan ibu sangat ramah, pak riswan membuatkan kami peta sederhana untuk tempat2 wisata di Ternate, dan juga menyediakan penyewaan sepeda motor dan juga mobil, berhubung Ternate hanya 42KM kelilingnya jadi kami hanya perlu sepeda motor saja.  Istri pak Riswan ternyata suku Minang yang bermukim di Pekanbaru dan dari merekalah kami mengetahui jika di Ternate ini banyaaaaaaak suku minang, bahkan ada pedagang sate padang looh disini, berhubung pedagangnya masih libur maka saya tidak bisa menikmati sate padang. Disini juga ada kelurahan bernama Salero ada masjid Imam Bonjol, dan banyak pedangang disini yang asli Minang.
Gunung Gamalama dari teras Home stay
Dari mereka (ibu dan bapak Riswan)juga kami mengetahui tentang larangan-2 untuk mendaki, bu riswan bercerita, pernah suatu hari ada pendaki dari Kalimantan adik dan kakak (wanita) yang tinggal di homestay ini, mereka ini sudah terbisa mendaki  tapi berhubung mereka sedang “halangan” maka bu risawan memberitahukan agar mereka tidak mendaki karena itu memang larangan yang harus di patuhi oleh setiap pendaki, mereka tidak mengindahhakan perkataan bu riswan, alhasil mereka mendaki jam 11 siang, ketika turun pada jam 11 malam mereka tersesat, untung saja  wilayah mereka tersesat ini masih  masuk dalam jangkauan sinyal telekomunikasi (fyi : Gunung Gamalama ketinggiannya tidak sampai 2000 MDPL , dan jarak tempuh dari desa terakhir ke puncak gunung hanya 6jam perjalanan, cukup dekat, menara telekomsel terdapat di salah satu sisi ketinggian).  Alhasil jam 11 malam pak riswan menghubungi juru kunci gunung dan membantu menemukan mereka alahmdulillah mereka selamat, dan ketika turun mereka menceritakan pengalaman  “mistis”. Dan pada tgl 21 juni 2018 (pada saat kami masih di Ternate) ada mahasiswa yang hilang di gunung Gamalama, Alhamdulillah di temukan meski dalam keadaan hypothermia, jadi dimanapun kita berada  kita harus menuruti larangan yang dipercaya warga setempat. 
pemandangan di pelabuhan dufa-dufa
Setelah beristirahat semalaman, keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Jailalo, Halamhera Barat (Pulau berbentuk huruf  K) . Untuk mengunjungi teman seperjuangan abi Ghazia ketika kuliah di INSTIPER Yogyakarta, perjalanan dari Ternate ke Jailalo bisa menggunakan kapal cepat dan kapal kayu di pelabuhan Dufa-dufa, untuk kapal cepat tarifnya  Rp60.000 lama perjalanan 1jam membelah laut Halmahera yang terkenal cuaca bisa berubah-2 untuk itu setiap penumpang yang akan menaiki speed boat diberikan jaket pelampung berwarna jingga, untuk menggunakan kapal kayu harga tiket Rp 40.000 lama perjalanan 1,5jam. Untuk spead akan berangkat jika penumpang sudah mencukupi 40 orang jadi kita harus menunggu, meski menunggu pemandangan disekitar pelabuhan tak akan membuat kita jemu. Kami disambut  gerimis ketika memasuki peraian teluk Jailalo dari pelabuhan kami menggunakan bentor kerumah temannya abi Ghazia (kita bisa menemukan bentor di Tidore dan Halmahera, tapi khusus di Ternate tidak ada bentor).
Jalanan di salah satu kecamatan di Jailalo

Pantai jailalo denga pasir hitamnya (nangis pengen renang)
  Kami meginap 1 malam dirumah temannya abi ghazia, ghazia sangat senang Karena  ghazia bertemu dengan teman seumurannya bernama arkan, ghazia cepat akrab dia tidak segan untuk memperkenalkan diri dan si Arkannya yang malu-malu xixiixixix, di Jailalo kami mengunjungi pantai (syaa lupa namanya) pantai di Jailalo ini pasirnya Hitam cukup berbeda dengan pantai-pantai yang ada di Grontalo yang hampir keseluruhan berpasir Putih, karena Maluku merupakan penghasil rempah-rempah, sepanjang perjalanan pohon Pala, cengkeh dan rambutan sangat banyak ditemui......


(bersambung Fajar ke 6 diTernate Part 2)
bagian dalam speadboat

2 komentar:

  1. Indahnyaaaaa... syukron sudah berbagi. Walaupun entah kapan ke sana, setidaknya udah ikut menikmati keindahan alam ternate😍😍. Jalan2 terus ya... dan teruslah berbagi cerita..😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kakak... terimkasih suah berkunjung xixiixixi

      Hapus

Fajar ke 6 di Ternate part 2

Kami kembali  ke Ternate menggunakan kapal cepat, dan tahu kah kawan-kawan ada hal yang sangat mengganggu saya dalam kapal cepat ini, ...